. "Cirebon Site"
Unduh Adobe Flash player

Minggu, 14 Agustus 2011

TAYUBAN


Tayuban konon lahir di lingkungan kraton dan digunakan untuk menghormati tamu-tamu agung juga digunakan untuk acara-acara penting seperti pelakrama agung (perkawinan keluarga Sultan), tanggap warsa, peringatan ulang tahun, papakan, atau sunatan putra dalem.

Tayuban kemudian menyebar dan berkembang di masyarakat dengan pengaruh negatif baik datangnya dari luar maupun dari dalam.

Waditra yang digunakan adalah laras pelog, gendang, bedug, saron, bonang dsb. Wiyaga berjumlah 15 orang.

Busana Wiyaga bendo, baju taqwa, kain batik dan celana sontok. Busana Ronggeng kembang goyang, melati suren, sanggung bokor, cinatok, sangsangan, krestagen dan alat perhiasan.

kerupuk sambel


Salah satu kerupuk yang terkenal dari Kabupaten Cirebon adalah kerupuk melarat, yaitu kerupuk kanji yang berwarna-warni. Bagi masyarakat Cirebon, menikmati kerupuk melarat harus dengan sambal, yang terbuat dari cabai merah, air, garam, gula merah dan sedikit asam jawa. Sambal lainnya terbuat dari oncom yang oleh masyarakat Cirebon dikenal sebagai dage, yaitu dage, air, garam dan cabe rawit yang dihaluskan kemudian disiramkan di atas kerupuk.

Kerupuk sambel ini banyak juga disajikan dengan kangkung dan toge, biasanya disebut juga dengan nama rujak sambel asem, karena sambalnya yang bercita rasa asam manis pedas.
Hmm... nikmat dan maknyuss...
anda ingin mencicipi kuliner ini???, Datang saja langsung ke CIREBON.

tahu gejrot khas cirebon


Tahu gejrot yang berasal dari Kecamatan Ciledug adalah tahu matang yang berwarna coklat, disajikan dalam wadah yang terbuat dari tanah liat dan berbentuk seperti coet/cobek namun agak tipis, diberi taburan irisan bawang merah dan cabe rawit mentah dengan kuah yang dimasak dengan gula merah.

Rasa tahu gejrot yang manis pedas sangat diminati banyak kalangan, tak heran penjual tahu gejrot banyak ditemui di daerah lain di Pulau Jawa, terutama di Jakarta

Rabu, 10 Agustus 2011

Menara Masjid Raya At-Taqwa Cirebon Dipenuhi Pengunjung


Pengunjung menara Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon memasuki bulan Ramadahan meningkat dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Operator menara, Jenal (24 tahun) dan Yusup (25 tahun), Rabu (2/8) mengatakan, ada peningkatan pengunjung dibandingkan hari biasanya. "Yang pastinya menjelang ngabuburit ini pengunjung antre dibandingkan hari biasanya," kata Jenal.
Menara Masjid yang tingginya 65 meter itu, menurut Jenal, dibuka setiap Senin sampai Sabtu dari pukul 10.00 WIB sampai 17.30 WIB. Namun untuk hari Minggu dibuka lebih pagi. Pengunjung terdiri dari anak-anak, remaja, hingga dewasa."Untuk hari biasa, kita buka jam sepuluh namun khusus untuk Minggu buka jam sembilan," ujarnya.
Ketika di atas menara, kata Yusup, pengunjung dapat melihat pemandangan Kota Cirebon dan hanya diperbolehkan sampai lantai 13 dari 15 lantai. Karena semakin atas tangganya semakin sempit dan curam. "Di atas kita dapat melihat gunung, stasiun dan laut, dan hanya diperbolehkan sampai lantai 13 saja," katanya.
Sedangkan, pengunjungnya, lanjut Yusup, beragam. Dari mulai pejabat, pelajar sekolah, mahasiswa dan yang sudah berumah tangga dengan anaknya. "Banyak anak-anak muda maupun yang sudah berumah tangga berkunjung ke sini dengan membawa anaknya," ujarnya.
Aldi (18 tahun), seorang pelajar yang berkunjung beserta ketiga temannya dari Kelurahan Sunyaragi, mengatakan, dirinya sengaja datang ke menara At-Taqwa untuk melihat Kota Cirebon dari atas menara Masjid bersama temannya, hingga menjelang buka puasa. "Saya sering ke sini mas dengan teman-teman untuk melihat pemandangan dari atas menara, sambil menunggu buka puasa," ujarnya.(

Puasa

MARHABAN YAA RAMADHAN....Puasa dalam agama Islam atau Shaum (Arab: صوم) secara bahasa artinya menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183.
Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Terdapat puasa wajib dan puasa sunnah, namun tata caranya tetap sama.

Kamis, 14 Juli 2011

Kemeriahan festival cirebon 2011 - kirab budaya - gebyar budaya daerah


FESTIVAL CIREBON: Sekelompok penari membawakan tarian Angklung Bunko, pada Festival Cirebon ke-VI/2011, di Kota Cirebon, Jawa Barat, hari ini. Pada karnaval itu, 17 jenis kesenian dari wilayah III Cirebon ikut serta meramaikan karnaval yang diikuti sekitar 1.500 orang

Warga Kota Cirebon dan sekitarnya Minggu (10/7) sore bisa menyaksikan kirab budaya yang akan dimulai dari Balai Kota Cirebon, Jalan Siliwangi hingga Keraton Kasepuhan.

Ade Sumpena, Wakil Ketua Pelaksana Festival Cirebon Ke-VI/2011 mengatakan, acara kirab budaya hari ini, berupa karnaval berbagai jenis kesenian dari wilayah III Cirebon.

“Karnaval tersebut mulai dari Balai Kota Cirebon. Pesertanya mencapai 1.500 orang dengan jumlah kesenian 17 jenis,” kata Ade Sumpena kepada bisnis-jabar.com, hari ini.

Dia menambahkan karnaval akan melintasi Jalan Siliwangi-Karanggetas-Pekiringan-Pekalipan-Pulasaren-Keraton Kasepuhan.

“Acara dimulai pukul 15.00 WIB direncanakan akan di lepas oleh Wakil Wali Kota Cirebon,” kata dia.

Selain karnaval, lanjut dia, festival cirebon ini juga menampilkan pagelaran yang akan dilaksanakan dari 11-16 Juli 2011 mendatang di alun-alun Kasepuhan, Kota Cirebon yang diikuti 24 sanggar seni dari wilayah III Cirebon. (Roberto Purba)

Selasa, 12 Juli 2011

Sejarah Kota CIREBON

KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.



Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723.



Dalam naskah itu pula disebutkan bahwa asal mula kata “Cirebon” adalah “sarumban”, lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.



Menurut P.S. Sulendraningrat, penanggung jawab sejarah Cirebon, munculnya istilah tersebut dikaitkan dengan pembuatan terasi yang dilakukan oleh Pangeran Cakrabumi alias Cakrabuana. Kata “Cirebon” berdasarkan kiratabasa dalam Bahasa Sunda berasal dari “Ci” artinya “air” dan “rebon” yaitu “udang kecil” sebagai bahan pembuat terasi. Perkiraan ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa dari dahulu hingga sekarang, Cirebon merupakan penghasil udang dan terasi yang berkualitas baik.



Berbagai sumber menyebutkan tentang asal-usul Sunan Gunung Jati, pendiri Kesultanan Cirebon. Dalam sumber lokal yang tergolong historiografi, disebutkan kisah tentang Ki Gedeng Sedhang Kasih, sebagai kepala Nagari Surantaka, bawahan Kerajaan Galuh. Ki Gedeng Sedhang Kasih, adik Raja Galuh, Prabu Anggalarang, memiliki puteri bernama Nyai Ambet Kasih. Puterinya ini dinikahkan dengan Raden Pamanah Rasa, putra Prabu Anggalarang.



Karena Raden Pamanah Rasa memenangkan sayembara lalu menikahi puteri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang, dari Nagari Singapura, tetangga Nagari Surantaka. Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga orang anak, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Setelah ibunya meninggal, Raden Walangsungsang serta Nyai Lara Santang meninggalkan Keraton, dan tinggal di rumah Pendeta Budha, Ki Gedeng Danuwarsih.



Puteri Ki Gedeng Danuwarsih yang bernama Nyai Indang Geulis dinikahi Raden Walangsungsang, serta berguru Agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi. Raden Walangsungsang diberi nama baru, yaitu Ki Samadullah, dan kelak sepulang dari tanah suci diganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Atas anjuran gurunya, Raden Walangsungsang membuka daerah baru yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Daerah Tegal Alang-alang berkembang dan banyak didatangi orang Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, sehingga disebutlah daerah ini “Caruban”, artinya campuran. Bukan hanya etnis yang bercampur, tapi agama juga bercampur.



Atas saran gurunya, Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci bersama adiknya, Nyai Lara Santang. Di Tanah Suci inilah, adiknya dinikahi Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Nyai Lara Santang berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.



Dari perkawinan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah yang kelak menjadi Sunan Gunung Jati. Dilihat dari Genealogi, Syarif Hidayatullah yang nantinya menjadi salahseorang Wali Sanga, menduduki generasi ke-22 dari Nabi Muhammad.



Sesudah adiknya kawin, Ki Samadullah atau Abdullah Iman pulang ke Jawa. Setibanya di tanah air, mendirikan Masjid Jalagrahan, dan membuat rumah besar yang nantinya menjadi Keraton Pakungwati. Setelah Ki Danusela meninggal Ki Samadullah diangkat menjadu Kuwu Caruban dan digelari Pangeran Cakrabuana. Pakuwuan ini ditingkatkan menjadi Nagari Caruban larang. Pangeran Cakrabuana mendapat gelar dari ayahandanya, Prabu Siliwangi, sebagai Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.



Setelah berguru di berbagai negara, kemudian berguru tiba di Jawa. Dengan persetujuan Sunan Ampel dan para wali lainnya disarankan untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, Pangeran Cakrabuana. Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar Agama Islam, menggatikan Syekh Datuk Kahfi.



Syekh Jati juga mengajar di dukuh Babadan. Di sana ia menemukan jodohnya dengan Nyai Babadan Puteri Ki Gedeng Babadan. Karena isterinya meninggal, Syekh Jati kemudian menikah lagi dengan Dewi Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana, disamping menikahi Nyai Lara Bagdad, puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi.



Syekh Jati kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten, lahirlah Pangeran Saba Kingkin, kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Sementara itu Pangeran Cakrabuana meminta Syekh Jati menggantikan kedudukannya dan Syarif Hidayatullah pun kembali ke Caruban. Di Cirebon ia dinobatkan sebagai kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejak tahun 1479 itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai Pusat Kesultanan dan namanya diganti menjadi Cerbon.



Pada awal abad ke-16 Cirebon dikenal sebagai kota perdagangan terutama untuk komoditas beras dan hasil bumi yang diekspor ke Malaka. Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalah Medez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda dibawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai.



Sejak awal berdirinya, batas-batas wilayah Kesultanan Cirebon termasuk bermasalah. Hal ini disebabkan, pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Sundakalapa berhasil ditaklukan. Ketika Banten muncul sebagai Kesultanan yang berdaulat ditangan putra Susuhunan Jati, yaitu Maulana Hasanuddin, masalahnya timbul, apakah Sunda Kalapa termasuk kekuasaan Cirebon atau Banten?

Bagi Kesultanan Banten, batas wilayah ini dibuat mudah saja, dan tidak pernah menimbulkan konflik. Hanya saja pada tahun 1679 dan 1681, Cirebon pernah mengklaim daerah Sumedang, Indramayu, Galuh, dan Sukapura yang saat itu dipengaruhi Banten, sebagai wilayah pengaruhnya.



Pada masa Panembahan Ratu, perhatian lebih diarahkan kepada penguatan kehidupan keagamaan. Kedudukannya sebagai ulama, merupakan salah satu alasan Sultan Mataram agak segan untuk memasukkan Cirebon sebagai daerah taklukan. Wilayah Kesultanan Cirebon saat itu meliputi Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten dan Kotamadya Cirebon sekarang. Ketika Panembahan Ratu wafat, tahun 1649 ia digantikan oleh cucunya Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II. Dari perkawinannya dengan puteri Sunan Tegalwangi, Panembahan Girilaya memiliki 3 anak, yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya, dan Pangeran Wangsakerta. Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kesultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, atau dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, yang dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya dikenal dengan Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.



Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan. Pada tahun 1800 Residen Waterloo mencoba membuat pipa saluran air yang mengalir dari Linggajati, tetapi akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 3 perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon. Pada tahun 1877, di sana sudah berdiri pabrik es, dan pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada awal abad ke-20, Cirebon merupakan salahsatu dari lima kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya adalah beras, ikan, tembakau dan gula.

Visit CIREBON

Visitor