. "Cirebon Site": pandawa lima
Unduh Adobe Flash player
Tampilkan postingan dengan label pandawa lima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pandawa lima. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

Koleksi foto Lukisan Kaca karya Bpk. Rastika _ Cirebon

   Bapak Rastika adalah seorang pelukis dari Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Cirebon. karya-karya sang pelukis, kini bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta. bahkan karyanya mengisi di Museum Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah.
   kali ini Saya akan memposting Sedikit dari karya-karya beliau yang memiliki bandrol yang tingggi, berikut diantaranya:

1. Gugurnya Resi Bima


Lukisan ini menggambarkan Resi Bisma yang gugur di medan pertempuran dengan tubuh penuh anak panah pada saat perang bharatayuda jaya lemggeran antara Pandawa dan Kurawa.

2.  Sekelompok kera dan beberapa tokoh pewayangan

Lukisan ini mungkin meggambarkan beberapa ekor kera yang ingin melawan beberapa karakter pewayangan yang memiliki watak yang jahat dan ingin merebut merebut mahkotanya.
3. Arjuna Bertapa
Lukisan ini menggambarkan sesosok Arjuna yang sedang bertapa/ semedi di gua Minturaga yang ada dikawasan gunung Indrakila. 
4.
5.

6.
 Lukisan ini menggambarkan tokoh pewayangan yakni Pandawa lima ( Arjuna, Bima, Nakula, sadewa dan Yudistira) bersama Ibunya (Dewi Kunti)  yang sedang beristirahat di taman Pelawangan. 


Sabtu, 07 Januari 2012

Menjadi Pemimpin berwatak Semar


semar
“ Ada kalanya kita harus mengalah walaupun itu pahit,tetapi ada juga saatnya kita tidak boleh mengalah dan menyerah, kalau memang itu adalah perjuangan untuk membela kebenaran bagi kaum yang lemah “.

Ucapan itu selalu teringat di benak saya,kalimat tersebut adalah ucapan dari Cak Nun ( Emha Ainun Najib ) pada acara Do’a bersama untuk Indonesia di Alun-alun Kabupaten Jombang – Jawa Timur tahun 1997 akhir,tanggalnya saya sudah lupa ( baca saja: sekarang sudah pikun ).

Saat itu Negara kita sedang terjadi kemelut luar biasa sekali,yang di awali mulai tahun 1997 mei.Yang mana Ekonomi dan Moral betul-betul seperti tidak di miliki lagi pada penghuni negeri ini.Kepercayaan kepada pemerintahan hanya sebatas ujung kuku pada saat itu.Kerusuhan yang menjurus tindakan Anarkis banyak terjadi di mana-mana,dan sebagai basis terbesar Ibukota tercinta Jakarta.

Dan sepertinya pada saat itu yang berpredikat penegak keamanan Negarapun seperti tidak bisa mengendalikan keadaan,Situasi semakin Ricuh dan memanas,akibatnya justru terjadi perlakuan sebaliknya.Tuntutan dari rekan Mahasiswa demi membela Rakyat kecil malah menjadi sasaran timah panas yang berujung jatuhnya Korban di pihak Mahasiswa.Sungguh,Indonesia saat itu seperti segumpal bola kapas yang tertiup angin.Tidak ada kata saling percaya antar pejabat Negara,malah saling curiga yang berbuah petaka.



Tuhan itu Maha Adil,Dengan Do’a para Ulama Islam,Pemuka – pemuka dari agama Hindu,Budha,Katholik,Protestan dan kepercayaan lain membuahkan hasil.Perlahan Indonesia berangsur pulih dan tenang kembali hingga kini kita rasakan bersama.”Terima kasih Ya Allah,Engkaulah Maha pemberi sesuatu yang sepantasnya kami terima”.

Di tengah ketenangan dan kedamaian,dan di saat Rakyat mulai di libatkan dalam penyampaian aspirasinya,Justru timbul hal-hal memalukan yang di lakukan wakil kita di lembaga DPR.Sangat tidak pantas seorang wakil rakyat harus melempar kursi,memukul hanya sebab perbedaan pendapat dalam sidang.Itu adalah kejadian yang membuat malu ( “Apa kata Dunia kata Nagabonar” ).Penerapan kata DEMOKRASI akan menjadi tanda tanya bagi anak - anak yang baru masuk sekolah,Karena melihat para pelaku Demokrasinya justru tidak bisa menerapkannya dengan benar.

Mungkin ada baiknya jika para Peminpin kita itu memiliki prilaku dari salah satu sosok profil dalam Dunia pewayangan.Sosok ini dalam pewayangan bukan profil Raja atau Patih dan sebagainya,tetapi dia hanya seorang lurah yang tinggal di sebuah Desa Karang Kadempel.tetapi kata-katanya selalu menjadi panutan dari Raja-raja di golongan Pandawa.Dia adalah Semar.

Semar dalam Filosofi jawa di sebut BADRANAYA yang artinya membangun sarana dari dasarnya dan melaksankan perintah Allah untuk kesejahteraan Manusia. Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. artinnya : “Sebagai pribadi tokoh semar sebagai simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah secara total ,sekaligus simbol keilmuan yang netraltetapi simpatik”. Menjadi pemimpin seharusnya tidak melihat suatu usulan itu datangnya dari pihak mana,melainkan bagaimana mempertimbangkan dan menjalankannya supaya masyarakat bisa lebih baik ke masa depan.

Rambutnya yang Kuncung mempunyai arti,” Akuning sang Kuncung “ sebagai kepribadian pelayan.Yang melayani umat ,tanpa meminta pamrih,untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.Menjadi pemimpin berarti harus siap melayani masyarakat dengan melaksanakannya secara benar demi kepentingan umum,bukan untuk keuntungan pribadi.

Cara berjalannya selalu menghadap ke atas ini artinya “memberikan teladan agar selalu memandang keatas kepada (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Corak kain Parangkusumo yang di pakai adalah perwujudan Dewonggowantah ( penuntun manusia) agarMemayu hayuning bawono menciptakan keadilan dan kebenaran di bumiini.Dengan menjadi seorang peminpin yang bisa dijadikan tauladan,harus bisa selalu memberikan perlindungan kepada masyarakat.jangn malah menyulitkannya.

Semar berkuncung seperti anak-anak,namun juga berwajah sangat tua.menjadi pemimpin harus bisa melayani semua golongan, baik itu dari golongan bawah atau golongan atas.jangan hanya kalau ada uang mau melayani.

Semar tertawannya selalu diakhiri dengan nada tangisan,Ini merupakan contoh bahwa pemimpin harus ikut merasakan penderitaan kaum miskin.

Semar berwajah menangis namun mulutnya tertawa,Pemimpin harus bisa memberikan rasa ketenangan kepada rakyatnya yang sedang di landa bencana.dengan memberikan langkah yang baik dan tepat bagi rakyat yang sedang terkena musibah atau bencana.

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok.Kalau sifat yang satu ini sudah banyak dimiliki oleh pimpinan kita,walaupun sifatnya musiman,istilahnya pas dekat pemilu saja pemimpin mau berbaur dengan masyarakat kecil.

Kebudayaan kita sebenarnya telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa. Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya merdekanya jiwa dan raga, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kepemimpinan bisa sempurna tak ternodai oleh dosa,dengan mengatakan yang salah tetap salah tanpa menyemukan dan menyembunyikan kesalahan atau bakan menutupinya.


Rujukan Buku Tentang Semar:
( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 )
( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 )
( Poedjowijatno, 1975 : 49 )
( Prodjosoebroto 1969 : 31 )
( Cermomanggolo 1995 : 5 )
( Soenarto Timoer 1994 : 4 )

Selasa, 12 April 2011

pandawa lima



Yudistira

Yudistira merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh), dan Bhārata (keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga.

Bima

bima merupakan putra kedua Kunti dengan Pandu. Nama bhimā dalam bahasa Sansekerta memiliki arti "mengerikan". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala dan pandai memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara. Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca, turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira. Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal dan mendapatkan surga. Dalam pewayangan Jawa, dua putranya yang lain selain Gatotkaca ialah Antareja dan Antasena.

Arjuna


Arjuna merupakan putra bungsu Kunti dengan Pandu. Namanya (dalam bahasa Sansekerta) memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah – karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga); Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putra Perta alias Kunti). Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan mencapai surga.

Nakula

Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Sadewa

Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Visit CIREBON

Visitor