. "Cirebon Site"
Unduh Adobe Flash player

Sabtu, 07 Januari 2012

Menjadi Pemimpin berwatak Semar


semar
“ Ada kalanya kita harus mengalah walaupun itu pahit,tetapi ada juga saatnya kita tidak boleh mengalah dan menyerah, kalau memang itu adalah perjuangan untuk membela kebenaran bagi kaum yang lemah “.

Ucapan itu selalu teringat di benak saya,kalimat tersebut adalah ucapan dari Cak Nun ( Emha Ainun Najib ) pada acara Do’a bersama untuk Indonesia di Alun-alun Kabupaten Jombang – Jawa Timur tahun 1997 akhir,tanggalnya saya sudah lupa ( baca saja: sekarang sudah pikun ).

Saat itu Negara kita sedang terjadi kemelut luar biasa sekali,yang di awali mulai tahun 1997 mei.Yang mana Ekonomi dan Moral betul-betul seperti tidak di miliki lagi pada penghuni negeri ini.Kepercayaan kepada pemerintahan hanya sebatas ujung kuku pada saat itu.Kerusuhan yang menjurus tindakan Anarkis banyak terjadi di mana-mana,dan sebagai basis terbesar Ibukota tercinta Jakarta.

Dan sepertinya pada saat itu yang berpredikat penegak keamanan Negarapun seperti tidak bisa mengendalikan keadaan,Situasi semakin Ricuh dan memanas,akibatnya justru terjadi perlakuan sebaliknya.Tuntutan dari rekan Mahasiswa demi membela Rakyat kecil malah menjadi sasaran timah panas yang berujung jatuhnya Korban di pihak Mahasiswa.Sungguh,Indonesia saat itu seperti segumpal bola kapas yang tertiup angin.Tidak ada kata saling percaya antar pejabat Negara,malah saling curiga yang berbuah petaka.



Tuhan itu Maha Adil,Dengan Do’a para Ulama Islam,Pemuka – pemuka dari agama Hindu,Budha,Katholik,Protestan dan kepercayaan lain membuahkan hasil.Perlahan Indonesia berangsur pulih dan tenang kembali hingga kini kita rasakan bersama.”Terima kasih Ya Allah,Engkaulah Maha pemberi sesuatu yang sepantasnya kami terima”.

Di tengah ketenangan dan kedamaian,dan di saat Rakyat mulai di libatkan dalam penyampaian aspirasinya,Justru timbul hal-hal memalukan yang di lakukan wakil kita di lembaga DPR.Sangat tidak pantas seorang wakil rakyat harus melempar kursi,memukul hanya sebab perbedaan pendapat dalam sidang.Itu adalah kejadian yang membuat malu ( “Apa kata Dunia kata Nagabonar” ).Penerapan kata DEMOKRASI akan menjadi tanda tanya bagi anak - anak yang baru masuk sekolah,Karena melihat para pelaku Demokrasinya justru tidak bisa menerapkannya dengan benar.

Mungkin ada baiknya jika para Peminpin kita itu memiliki prilaku dari salah satu sosok profil dalam Dunia pewayangan.Sosok ini dalam pewayangan bukan profil Raja atau Patih dan sebagainya,tetapi dia hanya seorang lurah yang tinggal di sebuah Desa Karang Kadempel.tetapi kata-katanya selalu menjadi panutan dari Raja-raja di golongan Pandawa.Dia adalah Semar.

Semar dalam Filosofi jawa di sebut BADRANAYA yang artinya membangun sarana dari dasarnya dan melaksankan perintah Allah untuk kesejahteraan Manusia. Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. artinnya : “Sebagai pribadi tokoh semar sebagai simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah secara total ,sekaligus simbol keilmuan yang netraltetapi simpatik”. Menjadi pemimpin seharusnya tidak melihat suatu usulan itu datangnya dari pihak mana,melainkan bagaimana mempertimbangkan dan menjalankannya supaya masyarakat bisa lebih baik ke masa depan.

Rambutnya yang Kuncung mempunyai arti,” Akuning sang Kuncung “ sebagai kepribadian pelayan.Yang melayani umat ,tanpa meminta pamrih,untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.Menjadi pemimpin berarti harus siap melayani masyarakat dengan melaksanakannya secara benar demi kepentingan umum,bukan untuk keuntungan pribadi.

Cara berjalannya selalu menghadap ke atas ini artinya “memberikan teladan agar selalu memandang keatas kepada (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Corak kain Parangkusumo yang di pakai adalah perwujudan Dewonggowantah ( penuntun manusia) agarMemayu hayuning bawono menciptakan keadilan dan kebenaran di bumiini.Dengan menjadi seorang peminpin yang bisa dijadikan tauladan,harus bisa selalu memberikan perlindungan kepada masyarakat.jangn malah menyulitkannya.

Semar berkuncung seperti anak-anak,namun juga berwajah sangat tua.menjadi pemimpin harus bisa melayani semua golongan, baik itu dari golongan bawah atau golongan atas.jangan hanya kalau ada uang mau melayani.

Semar tertawannya selalu diakhiri dengan nada tangisan,Ini merupakan contoh bahwa pemimpin harus ikut merasakan penderitaan kaum miskin.

Semar berwajah menangis namun mulutnya tertawa,Pemimpin harus bisa memberikan rasa ketenangan kepada rakyatnya yang sedang di landa bencana.dengan memberikan langkah yang baik dan tepat bagi rakyat yang sedang terkena musibah atau bencana.

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok.Kalau sifat yang satu ini sudah banyak dimiliki oleh pimpinan kita,walaupun sifatnya musiman,istilahnya pas dekat pemilu saja pemimpin mau berbaur dengan masyarakat kecil.

Kebudayaan kita sebenarnya telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa. Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan raga“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kepemimpinan bisa sempurna tak ternodai oleh dosa,dengan mengatakan yang salah tetap salah tanpa menyemukan dan menyembunyikan kesalahan atau bakan menutupinya.


Rujukan Buku Tentang Semar:
( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 )
( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 )
( Poedjowijatno, 1975 : 49 )
( Prodjosoebroto 1969 : 31 )
( Cermomanggolo 1995 : 5 )
( Soenarto Timoer 1994 : 4 )

Kamis, 05 Januari 2012

Kesenian Brai


Kesenian Brai berasal dari Wilayah Cirebon Brai berasal dari kata birahi atau kasmaran yaitu cinta kepada Allah. Karena itu bernafaskan Islam dan berkembang sejak zaman Sunan Gunung Jati dan digunakan sebagai sarana pengembangan ajaran agama Islam. Waditra yang digunakan adalah 2 buah terbang dan gendang.

Busana yang digunakan adalah busana muslim lengkap dengan jilbabnya bagi pemain wanita dan bagi pemain pria baju takwa, kopiah dan sarung.

Minggu, 01 Januari 2012

Wayang Babad


Wayang babad Cirebon diciptakan oleh Ki Dalang Askadi Sastra Suganda dari Cangkring Plered Cirebon. . Cerita yang diangkat dalam wayang babad ini biasanya bercerita tentang sejarah, legenda, cerita babad ataupun dongeng seperti golek cepak Cirebon.
Waditra yang digunakan adalah gamelan salendro dan pelog, genjring santri/rebanan, solawatan,lagu-lagu kemandu lakon

Sabtu, 31 Desember 2011

Bapak Rastika Sang pelukis kaca dari Gegesik

Bapak rastika adalah seorang pelukis dari desa. Desa itu Gegesik Kulon, di Kecamatan Gegesik, Cirebon.
karya-karya sang pelukis, Rastika, kini bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta, di beberapa rumah para pengagum seni dan bahkan mengisi Museum Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah yang dibuka Presiden Soeharto. "Saya tidak sangka nasib saya akan jadi begini," ujar Rastika. Ayah dari 3 orang anak ini, yang cuma sempat menikmati pendidikan resmi sampai kelas V Sekolah Dasar, kini bagaikan si pelukis istana Basuki Abdullah. Tadinya Rastika harus mencari pembeli lukisan kacanya. Kini ia tinggal terima pesanan. Rastika 38 tahun, bukan berasal dari keluarga yang mampu. Tapi kakeknya semasa hidup terkenal sebagai seorang pengukir keris. Kepandaian sang kakek ini rupanya menurun ke Rastika. Ketika usianya sekitar 10 tahun, sehabis membantu ayahnya di sawah, Rastika mengisi masa senggang dengan melukis. Biasanya dia melukis wayang Modalnya sederhana sekali. Kertas yang bisa didapatnya di toko Cina, dipoles dengan sumba (cat pewarna untuk kue).Kalau lukisannya selesai, ditawarkannya kepada teman-teman sebayanya atau siapa saja yang senang. "Lumayan," ujarnya, "saya bisa membantu emak untuk ongkos belanja dapur." Kalau uangnya berlebih, bukan hanya kertas yang dibelinya. Tetapi karton yang kemudian digunting dan diukir menjadi sebentuk wayang. Kepandaian ini didapatnya dari Pak Sudarga, dalang di desanya yang merangkap juga jadi pembuat wayang kulit. "Dari dia juga saya belajar melukis wayang di atas kaca," ujar Rastika. Melukis di atas kaca inilah yang kemudian menjadi keahliannya. Pasar Seni Nama Rastika ditemukan oleh dosen seni grafis ITB Harijadi Suadi, diajak ikut dalam pasar seni ITB. Gambar Semar dengan dua kalimat syahadat karya Rastika pun terpampang di jajaran sekian puluh lukisan. Sejak itulah namanya mencuat. Apalagi ketika orang yang bernama Yoop Ave, "orang Istana" yang menggemari dan mempunyai koleksi kaligrafi, juga terpesona melihat Semarnya Rastika. Seniman dari kampung Gegesik Kulon ini mulai dicari orang. Lukisan kacanya hadir dalam Pekan Raya Jakarta 1978. . Ia menciptakan sebuah sanggar usaha, dengan beberapa orang murid. Sanggar yang bernama Sungging Prabangkara ini sudah punya 10 orang murid resmi dan puluhan yang tidak resmi. Selain Rastika, penuntun untuk generasi lanjut seni lukis Cirebonan adalah Sawiyah, yang mengajarkan bagaimana membuat wayang kulit dan Sunardi, yang mengajar teknik warna untuk mengecat wayang kulit.Namun smpai sekarang Gegesik Kulon belum menjadi tempat yang terkenal. seperti Sanur atau Ubud di Bali. padahal Rastika, yang hitam manis dan ramah itu, adalah seorang pelopor lukisan kaca yang terkenal.

Jumat, 30 Desember 2011

Pemprov Gelar Festival Budaya Pesisir Di Cirebon

Cirebon - Selama tiga hari, Pemprov Jabar menggelar Festival Budaya Pesisir di Alun-Alun Keraton Kasepuhan Cirebon. Kegiatan dimulai pada Rabu (28/12/2011) dan akan berakhir Jumat (30/12/2011).
Kepala Bidang Sosial dan Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat (Bappeda Jabar) Edi Wahyudin mengatakan, kegiatan Festival Pesisir Jawa Barat 2011 bertujuan untuk pengembangan dan pelestarian seni budaya tradisional di wilayah Cirebon.
Selain itu, festival pun menjadi ajang untuk mempererat
hubungan silaturahmi seniman dan budayawan se wilayah III Cirebon yang meliputi Cirebon,
Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning).
"Kegiatan ini diharapkan dapat mengangkat khasanah budaya serta silaturahmi seniman dan budayawan di wilayah Cirebon," ujar Edi, Kamis (29/12/2011). Festival Budaya Pesisir Jawa Barat 2011 menampilkan berbagai kesenian tradisional dari wilayah Ciayumajakuning. Antara lain, Randu Kentir dari Losarang Kabupaten Indramayu, Kemprongan (Kuningan), Genjring Aktobat (Kabupaten Cirebon), Topeng Lakon (Kota Cirebon) dan kesenian Longser (Kabupaten Majalengka).
Sekretaris Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah Cirebon Karma Sulaeman, berharap kegiatan tersebut dapat mengangkat kekayaan khasanah seni budaya tradisi yang merupakan akar budaya daerah .
"Festival Budaya Pesisir ni diharapkan menjadi
momentum untuk kebangkitan dan pengakuan terhadap
keberadaan seniman dan budayawan oleh pemerintah
daerah serta masyarakat," ujar Karma Sulaeman.
Sumber: www.inilah.com/read/detail/1813192/pemprov-gelar-festival-budaya-pesisir/

Kamis, 29 Desember 2011

KOLEKSI FOTO KARNAVAL NADRAN DI DESA ASTANA GUNUNG JATI CIREBON part.2





koleksi koleksi ini saya ambil langsung dari karnaval nadran di desa astana gunung jati cirebon pada tanggal 23 desember 2011 yang lalu

Sabtu, 24 Desember 2011

koleksi foto karnaval nadran di desa astana gunung jati Cirebon

Berikut ini adalah Koleksi beberapa foto yang saya ambil pada saat karnaval/ arak-arakan di desa astana gunung jati cirebon.
1.
2.
3.
4.

Visit CIREBON

Visitor